suara; satu di antara berbagai

pernah nggak, gak sengaja ngeliat sesuatu, tiba-tiba langsung suka, muncul keinginan bisa ngeliat lebih lama lagi, bahkan kalo perlu ngeliat dengan intensitas tinggi, padahal sebenernya lagi gak butuh-butuh banget, tapi perasaan itu dikalahin sama keinginan tadi yang masa berlakunya hanya sementara?

sabtu kemarin waktu lagi main sama temen-temen, gak sengaja ngelewatin toko dengan nuansa girly yang akhirnya bikin kita tertarik masuk ke dalem. waktu keliling dan ngeliat-liat (kebiasaan cewek hehe), ada satu benda yang bikin aku gak bisa berhenti ngeliatin sampe lumayan lama. satu benda ini isinya ada dua dalam satu kemasannya. ragamnya ada beberapa, tapi diantara mereka, ada satu kemasan yang isi dari dua-duanya bikin aku ngelirik, terus ngeliatin, dan gak lama kedengeran omongan-omongan, tapi lebih dominan yang meragukan. aku perlu ini nggak ya? nanti apa beneran bisa kepake? di toko lain juga banyak yang jual lebih murah walaupun gak sebagus ini, tapi fungsinya tetep sama. dan suara-suara lainnya yang saling sahut menyahut, mencoba berebutan untuk memenangkan sesuatu yang bahkan bukan sebuah pertandingan, tapi hasil akhirnya menentukan suara mana yang akan kamu dengarkan, dan seberapa teguh kamu bisa mengalahkan dirimu sendiri.

hari ini, udah satu bulan aku ngelaluin perjalanan baruku. dulu, waktu masih bisa dengan gampang kumpul sama keluarga kapan aja, aku selalu ngebayangin gimana rasanya hidup sendiri nanti, apa bener proses menjadi dewasa itu bisa tercapai salah satunya dengan hidup mandiri dan jauh dari keluarga, sampai akhirnya tiba-tiba masa itu datang, dengan tidak terduga, tidak benar-benar diharapkan, tidak disambut dengan hangat, tapi dia benar-benar datang dengan tulus dan sopan, menawarkan untuk mencoba fitur paket terbaiknya. setelah nerima tawaran itu menurutku adalah pilihan terbaik saat itu, suara-suara kecil kembali saling bersahutan, kali ini bukan tentang memenangkan pertandingan dengan diri, tapi tentang keraguan dan angan-angan akan banyak hal yang bahkan belum tentu terjadi, semua suara itu berpikiran secara berlebihan. kamu bisa hidup sendiri? kamu bisa mandiri? kamu bisa ngatur keuanganmu? seorang manja bisa jauh dari keluarga? seberapa lama bisa bertahan? introvert gak akan bisa punya banyak temen. dan masih banyak lagi, entah berapa banyak jumlah suara yang sebenarnya sudah menghuni sampai selama ini. tapi dari hal-hal yang disampaikan suara-suara itu, ada satu yang selalu terdengar sampai sekarang. katanya: seberapa dewasa kamu untuk bisa menentukan keputusan terbaikmu? aku ngerasa, dengan umur segini, aku udah cukup bisa nentuin keputusan dan milih segala hal yang sudah dan akan datang. tapi ternyata, umur memang bukan sebuah patokan untuk bisa menentukan, karena umur, ya cuma angka, kan? ada hal-hal yang memiliki peran jauh lebih penting untuk menentukan pengambilan keputusan, selain umur yang ternyata cuma angka. hal-hal itu, rasanya aku cuma tahu dan pernah denger, belum kenalan, apalagi temenan sama mereka, ditambah dengan gelar introvert ini, mana mungkin bisa langsung temenan? hehe. setelah mikir lagi, menerima tawaran tadi memang pilihan terbaik, dan aku ngerasa itu adalah keputusan terbaikku saat ini. aku jadi punya kesempatan buat kenalan, berteman dan menjadi akrab sama mereka yang aku sebut sebagai hal-hal yang memiliki peran penting.

dan akhirnya, aku ngedengerin satu suara yang juga ikut menyampaikan pemikirannya, walaupun cuma sekali dan pelaaan banget, justru suaranya yang bikin paling mikir berulang-ulang. benda dalam kemasannya masih dipegang, tapi akhirnya ditaruh lagi, diselipin di bagian agak belakang, karena tiba-tiba ada satu suara yang nyeletuk: taruh di belakang aja biar gak diambil orang lain. dan aku setuju sama dia. gak lama setelahnya aku keluar dari toko ini yang letaknya ada di lantai dua karena udah ditunggu temen-temen buat turun ke lantai satu. selama di jalan turun ke bawah, satu suara yang tadi bilang sekali dan pelan banget itu kedenger lagi, kedenger lagi, sampai beberapa kali lagi. waktu udah nyampe lantai satu, akhirnya aku milih satu suara itu untuk jadi suara yang bener-bener aku dengerin. dia ngajak aku balik, lari dan naik-naikin tangga eskalator, ngelewatin beberapa orang yang juga naik eskalator yang sama, ninggalin temen-temen yang pada bengong ngeliatin. waktu masuk toko lagi dan ngambil dia-yang-bikin-kepikiran-terus-terusan, satu suara pelan itu kedengeran lagi, kali ini, aku rasa dia agak ngegedein volumenya. dia bilang: kalau benda itu bisa bikin kamu bahagia, dengan membelinya, kamu sudah melakukan satu keputusan terbaikmu.


sepele dan gak ketebak ya, hehehe. iya, itu gantungan baju. memutuskan untuk menawari mereka tempat tinggal baru karena mereka terlihat tulus dan menenangkan, seperti visual yang mereka representasikan. hujan dan warna birunya, jika ciptaan Tuhan ini sedang terjadi, mungkin membuat sebagian penghuni bumi mengingat momen di satu masa kehidupan mereka. bisa momen menyenangkan, melegakan, memacu kinerja jantung dengan tiba-tiba, meng-kayang-kan hati  yang sebelumnya adem ayem aja, atau mungkin momen menyedihkan yang ingin segera jauh diasingkan. biasanya kalau lagi hujan kan banyak yang mendadak galau dan memutar kembali rekaman memori masa lalu. kemudian, satu yang lainnya adalah rumah dan warna abu-abu kalemnya, yang mungkin juga membuat sebagian lain penghuni bumi merasakan kebahagiaan yang nyata. rumah adalah orangtua. rumah adalah keluarga. rumah adalah bisa makan masakan ibu yang enak sepuasnya tanpa mikir ragam kandungan bumbu jahat dan besaran biaya yang dikeluarkan setelah menghabiskannya tanpa sisa. rumah adalah bisa bercengkerama bersama bapak sampai pagi buta. rumah adalah bisa berjam-jam berada di satu ruangan dengan posisi yang sama dalam suasana tenang bersama mbak, mas atau adek. rumah adalah tempat kembali setelah menempuh perjalanan jauh, melelahkan dan menantang. rumah adalah segalanya yang berhubungan dengan kerinduan.

jadi, sampai di detik mengetik "rekaman" ini, aku sudah merasa membuat satu keputusan terbaikku. yah, walaupun mungkin memang biasa aja, gak penting, dan terlalu ngebesarin hal kecil, seenggaknya, kalau aku ngeliat mereka, rekaman momen tentang hujan dan rumah bisa bikin hariku jadi lebih baik. dan lagi, walaupun aku ngerasa belum cukup dewasa untuk menentukan keputusan hidupku sendiri, sampai saat ini, aku udah bahagia sama hidupku yang sekarang. memang ada penyesalan-penyesalan karena kurang tepatnya nentuin keputusan di masa lalu, tapi setiap orang pasti pernah ngelakuin hal yang sama, kan? karena rasa penyesalan adalah salah satu bahan dari resep untuk bersyukur dan hidup lebih bahagia.

kenapa repot sampe lari-larian dan balik ke atas cuma demi gantungan baju kayak gitu? ya karena, dengan ngeliat mereka dan mutusin buat ngeliat aja tanpa melakukan apa-apa, kepikirannya udah kayak orang mau ngerjain tugas akhir. lebay. indera-indera tetap menjalankan fungsinya dengan baik, tapi pikiran dan hati ini yang bikin percaya kalau ada sesuatu yang salah. kalau gak beli mereka, pasti nyeselnya bisa berhari-hari. kalau mereka bisa bikin bahagia dan hidup jadi lebih baik, kenapa gak coba buat ngejar dan merjuangin kebahagiaan itu? walaupun sederhana, kalau bikin lega, seneng dan gak gelisah lagi, tanpa melihat berapa banyak takaran porsinya, namanya tetep kebahagiaan, kan?

ohya, terus, keinginan yang masa berlakunya hanya sementara, bisa jadi karena kurangnya kesiagaan konsep komitmen diri, atau mungkin bisa jadi karena itu petunjuk bahwa kata sementara bukanlah sesuatu yang selalu buruk. sementara, perlahan bisa berubah menjadi selamanya. kalau lagi pengen sesuatu banget dan yakin kalau kita bener-bener bisa bertanggung jawab dan merjuangin sesuatu itu, ya balik lagi, apa salahnya? kenapa gak dicoba? daripada nanti nyeselnya lama, iya kan. ini sebenernya mau ngomong apa ya.

by the way, di tanggal 3 oktober ini, salah satu temen baikku yang juga lagi berjuang melakukan perjalanannya sendiri, sekarang angkanya bertambah satu. enam tahun lalu, aku dengerin satu suara yang akhirnya bikin kita jadi kayak gini sampai sekarang. katanya: dia gila orang-orang korea juga, sama kayak kamu. dia keliatan polos tapi sebenernya enggak. dia keliatan alim, masih keliatan, belum tau aslinya. temenan sama dia aja, baik kok. kalian bakalan nyambung. yaa, kurang lebih intinya kayak gitu =)) semoga hal-hal baik selalu terjadi sama kamu ya, phi. semoga kamu juga bisa nambah rekaman-rekaman terbaik hidupmu di sini yaa. Aamiin.

semoga rekaman berikutnya bisa "terdengar" lebih baik lagi.





masih di Surakarta,
10.3-4.2018

Comments