(we thought that) today is the day.
Hai, blogspot. apa kabar?
hehehe, lama enggak kesini. maaf ya, hampir dua bulan ini pertemanan kita jadi agak renggang, maaf karena kemarin-kemarin sering mainnya sama instagram, sekarang enggak lagi-lagi deh. dan maaf, karena lagi-lagi, kamu jadi tempat tujuan untukku pulang. terima kasih sudah sabar menunggu ya. ini apa toh
masih kita, antara dhinira, dan dirinya sendiri, jadi masih berdua, hubungannya semakin hari semakin baik, Alhamdulillah, hehe. beberapa waktu ini, sejak ditemenin sama dia (diri sendiri), setiap hari aku jadi ngerasa ada yang nemenin dan ngehibur, sekarang sukanya ngobrol terus, apapun itu, dan sekarang hidup jadi terasa lebih manusiawi lagi, atau memang sebenarnya sudah daridulu, tapi diri ini belum menyadari, karena selalu berusaha cuek, angkuh, dan tidak peduli? mungkin, sepertinya, bisa jadi.
banyak yang diobrolin, banyak juga perubahan yang menurutku bikin diri ini jadi lebih baik lagi. segala hal bisa diceritain, dipikirin, terus direnungin, dominannya tentang mimpi-mimpi. dari kecil, sudah punya banyak sekali mimpi, dari yang benar-benar sederhana dan emang gampang buat terwujud, sampai yang emang gak akan tercapai seberusaha apapun itu, pake sihir harry, ron, sama hermione juga gak akan bisa, dibantuin avengers geng juga impossible, walaupun kalau kata texas, impossible is nothing, tetep aja, di dunia ini memang ada yang beneran impossible. tapi, kalau skenario yang udah Allah tulis, kemudian Allah menghapus dan mengganti tulisan-Nya, itu beda lagi =)
tentang mimpi; ada beberapa yang dulu --sampai barusan, sebelum waktu menimbang-nimbang lagi dan akhirnya memutuskan-- aku rasa akan bisa terwujud saat tiba waktunya nanti. tapi sampai sekarangpun, sepertinya beberapa itu akan lebih baik kalau disudahi, dan diganti dengan sesuatu yang benar-benar diinginkan dari hati. jadi, beberapa yang itu nggak bener-bener diinginkan dari hati? tidak, bukan begitu; sangat diinginkan, bahkan setiap hari rasanya pengen banget bisa segera tercapai. tapi semakin hari, semakin bertambahnya detik, aku ngerasa semakin jauh sama beberapa itu tadi, dan diri ini jadi seperti bukan diri sendiri lagi, udah kayak beda orang. semakin beberapa itu tadi dideketin, ngerasa semakin jauh dengan kebahagiaan, yang ada malah nyakitin diri. lho, katanya mimpi? kok malah nyakitin diri? hehehe, kenapa ya kira-kira. nggak ngerti juga. mungkin karena sebegitu pengennya buat ngerealisasiin beberapa mimpi itu tadi, sampe semakin lama semakin lupa sama satu ruang bernama realitas. padahal raga ini menetap di realitas, setiap hari selalu melakukan rutinitas di pergerakan realitas, sampai disadarkan kalau diri ini ternyata juga memiliki batas. ada batasan-batasan yang aku nggak bisa lewatin, seberjuang keras apapun itu, sekuat apapun tekadnya, ya tetep aja nggak bisa. mungkin kayak memori internal hp yang gak ditemenin sama eksternal, kalau kapasitasnya sampe 32 giga; mau dimasukin video, dokumen, aplikasi, lagu-lagu, dan foto-foto yang sekalipun ukurannya udah diperkecil, kalau jumlahnya udah mencapai 31 koma sekian pun, pasti nanti muncul notifikasi yang isinya kapasitas memori udah penuh, gak bisa buat nyimpen file-file lagi. iya, bahkan sebelum sampai ke titik 32 giga, sampai kepada titik yang bener-bener menjadi batas. kalau berusaha ngehapus beberapa file yang ternyata gak penting dan diisi lagi sama beberapa yang baru? sama aja kan? pada akhirnya, beberapa yang baru tadi juga akan gabung sama yang lama, dan nanti akan terus bertambah lagi, sampai ke jumlah yang lagi-lagi mendekati 32 giga, dan akan ada notifikasi peringatan lagi. kalau udah bener-bener penuh dan masih tetep dipaksa, nanti bakal bikin hp nya nge-hank, sampai layarnya berubah jadi gelap, bisa sampai mati total dan nggak bisa dihidupin lagi.
batas. nggak akan bisa dilewati, kalau dari awal sudah diatur seperti itu. nggak akan bisa dilalui, kalau dari sananya sudah memutuskan ingin begitu. jadi, apa yang sebaiknya harus dilakukan?
mengikhlaskan.

iya, aku menciptakan harapan yang terlalu tinggi, ekspektasi yang terlalu berlebih, meminta hati untuk turut berkorban, dan itu nggak baik, sungguh, beneran. dalam hal ini, bukan kepada ciptaan Allah yang bernyawa, melainkan mimpi akan sesuatu atas dasar aktualisasi diri, yang mungkin di dalamnya ada beberapa orang, tapi bukan itu yang menjadi intinya. emang bener ya, segalanya nggak akan baik kalau ada campur tangan harapan dan ekspektasi, terlebih kepada sesuatu bernama makhluk hidup, sampai hati pun dilibatkan untuk berperan sebagai pelakon utama. berharaplah hanya kepada Allah; karena memang hanya Allah yang bisa memberikan apa yang dibutuhkan dan diinginkan, hanya Allah yang selalu bisa menjaga hati dan satu-satunya yang mau menerima, untuk sekali lagi, saat ingin kembali dan menyerahkan diri sepenuhnya.
berat memang, siapa yang bilang mengikhlaskan itu gampang? saat beberapa yang tengah sibuk menikmati santapan di pinggiran jalan dan tiba-tiba mendengar "mohon diberi seikhlasnya" oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai penyanyi jalanan, ketika yang tadi sibuk dengan kenikmatan lalu menyalurkan nilai dari yang semula di dompet beralih ke sebungkus bekas permen atau sekaleng bekas sarden; saat sudah memberi, beberapa mengeluh namun diputuskan untuk disimpan bersama diri, tapi mungkin sampai ada yang dengan jelas memperlihatkan raut kesalnya dan mengomel sendiri. hehehe, nggak semuanya begitu kok, maaf ya.
perlu waktu, perlu kesadaran, perlu renungan, perlu obat untuk sembuh, untuk bisa mengikhlaskan, kemudian bersyukur atas kesempatan berupa penyadaran yang telah Allah berikan.
apa obatnya? sambil berproses diri, nanti juga akan ketemu sendiri. hal-hal yang bikin lupa dengan kesedihan, beberapa, atau satu, yang kemudian ketika ngelihat diri sendiri di cermin, seseorang yang terlihat dalam pantulan berubah menjadi sosok yang sudah berbeda --yang terlihat sedikit (atau bahkan banyak?) lebih bahagia dan ceria-- nah, itu sudah ketemu obatnya, tolong nanti dikonsumsi sesuai takarannya, dan beberapa saat kemudian, sembuh bukan lagi angan-angan, ikhlas akan menciptakan senyuman, dan pada akhirnya, diri akan berdamai dengan kesedihan.
halo, beberapa mimpi-mimpiku;
terima kasih ya, turut berperan membentukku menjadi seperti sekarang, sudah membuatku berproses dengan melewati berbagai macam perasaan; pernah akan teramat begitu bahagia, bimbang akan kejaran keraguan dan kegelisahan, membenci dengan singgahnya kegagalan dan kesedihan, sampai pada waktu akhirnya memilih untuk melepaskan, dan kini berusaha mengikhlaskan.
hari ini, aku ingin melihat kalian bebas, membaur dengan mimpi-mimpi banyak orang yang terlebih dahulu memutuskan untuk hidup bersama kenyataan, tidak lagi tersesat dalam ketidakpastian. hidup hanya sesaat, ada baiknya meneruskan yang memang benar dirasa bermanfaat.
karena kita ingin bahagia, mimpi-mimpi juga ingin bahagia. jadi agar keduanya mencapai win-win solution dan sama-sama mendapatkan kebahagiaan, satu-satunya jalan ya dengan menikmati porsi yang sudah ditentukan, secara masing-masing.
teruntuk mimpi-mimpiku yang masih betah bermukim di dalam hati, kita lanjutkan ini ya. semoga Allah meridhoi dan memberikan jalan, mewujudkan niat ini bersama pelan-pelan, tidak lagi takut bertemu dengan halangan, berteman baik dengan ketidakputus asaan, sampai nanti waktunya benar-benar tiba ketika disapa baik oleh barisan pencapaian dan keberhasilan. sebelum sampai disitu, tetap bertahan ya. Aamiin.
oiya, sekarang sudah masuk akhir desember. cepat sekali waktu berlalu. nggak tahu kenapa, selalu suka dengan bulan desember. suka, karena banyak libur, home alone selalu berseliweran untuk beberapa saat di channel tv (walaupun sekarang gak berteman akrab sama tv), dan film-film liburan lainnya, jadi kangen masa saat kebahagiaan terdefinisikan dengan bangun pagi, nonton film dan kartun sambil makan pisang, minum susu dan nyemilin eskrim, hehehe.
terus, suka desember juga karena nanti bisa lihat banyak kembang api, gratis, nggak tau kalau yang sebentar lagi bisa lihat juga atau enggak.
terakhir (untuk saat ini), suka desember karena diri ini bisa melihat sudah sedekat apa sama mimpi-mimpi, setelah bertemu lagi dengan satu tahun dan begitu banyak yang dilalui, kemudian; berusaha menciptakan lagi mimpi-mimpi yang lain, biar mimpi-mimpinya semakin banyak. kalau banyak kan, jadi nggak kesepian, semuanya bisa berkenalan, akrab, dan bermain bersama. (iyain aja)
lagi dan lagi masih di langit Surakarta,
ketika yang lain sudah kembali ke langit daratan asal masing-masing,
sementara diri ini masih saja bimbang untuk memutuskan;
terus menetap atau juga melakukan yang sama.
yah, namanya juga manusia,
selalu ragu dan membuat segala yang mudah menjadi rumit.
namanya juga...
manusia,
dengan berjuta-juta mimpinya.
12.28-29.2018.
iya, nulisnya tengah malem, makanya sampe ganti hari.
12.28-29.2018.
iya, nulisnya tengah malem, makanya sampe ganti hari.
Comments
Post a Comment