kesekian kali; disadarkan lagi.
praduga, prasangka, curiga. sebenarnya apa arti dari ketiganya?
tidak jauh berbeda, tiga itu berawal dari kesatuan rasa yang terdiri atas beberapa; ketidakpercayaan, keraguan, ketidak-percaya-dirian, kegelisahan, dan ketakutan. semuanya berjumlah dengan porsi yang berlebihan, terus bertambah, dan semakin lama semakin dalam.
tadi siang sempat bermimpi, walaupun sebentar, tapi terasa lama sekali. ada dua hal utama yang jadi tema mimpi siang ini, salah satunya tentang praduga, prasangka, dan curiga tadi. menurutku, ketiganya ini punya arti yang mirip; sama-sama secara egois mengkonklusikan sesuatu dengan hasil negatif, yang sesungguhnya belum benar dan pasti diyakini. semuanya berawal dari pemikiran sendiri, suara-suara jahat lebih mendominasi. jahat? kenapa? karena dasar dari suara-suaranya adalah kesatuan rasa itu tadi. rasa-rasa yang tidak sepatutnya ada dan disimpan dalam diri. jahat? kenapa? ya karena dari suara-suara itu pada akhirnya akan menumbuhkan tiga hal tadi dalam diri seseorang, dan lama-lama akan tumbuh juga di dalam hati. jahatkah? iya, sangat.
di dalam mimpinya, aku sempat berpikiran negatif terhadap seseorang, tumbuh rasa curiga, terlebih dahulu menciptakan praduga dan prasangka, tanpa sekalipun berniat mencari kebenaran sesungguhnya. dari awal sudah berpikiran tidak baik karena menemukan dan mulai merawat kesatuan rasa negatif; keraguan, ketidakpercayaan, kegelisahan, dan ketakutan yang berlebihan, sungguh, takarannya melebihi batas permukaan, tidak lagi bisa dikendalikan. sampai akhirnya disadarkan dengan ditunjukkan bukti nyata dari seorang lainnya, bahwa semuanya hanya berdasarkan pemikiran, semuanya dimulai dari diriku sendiri, dari kesatuan rasa negatif yang bikin diri jadi jahat, bikin hati jadi keruh, bikin semuanya jadi rumit.
mungkin kalau tadi siang nggak mimpi kayak gitu, praduga, prasangka dan curiga ini masih tetap melekat, sampai selama yang mereka mau, sampai selama yang aku ijinkan, sampai selama yang aku inginkan. mungkin kalau tadi siang nggak mimpi kayak gitu, aku bakalan bikin semuanya jadi makin ribet, rumit, riweh, hancur tak bersisa, hingga akhir klise yang melanda; rasa penyesalan dan muncul banyak pengandaian di masa nanti; kalau aja dulu aku nggak kayak begini, kalau aja dulu aku ngelakuin yang bener, kalau aja dulu aku lebih ngikutin hati, dan 'kalau aja dulu' lainnya.
Tapi, tidak selamanya ketiga term itu mengandung arti negatif. Semuanya kembali lagi pada situasi yang terjadi, cara manusia memaknainya dan menggunakannya.
Tuhan baik sekali, sudah menyadarkan melalui mimpi, agar diri ini segera membersihkan hati, dan hanya mengisinya dengan perasaan yang baik-baik saja, tanpa terkecuali. semoga tidak ada 'kesatuan rasa negatif' lain kali. Aamiin.
tema kedua yang juga masih di dalam mimpi adalah tentang rasa percaya diri dan memulai segala sesuatunya dengan pasti sejak kesempatan datang menghampiri. di dalam mimpi, ada satu hal yang dari kecil sudah aku senengin, pasti langsung semangat kalau melihat atau melakukan yang berhubungan dengan yang disenengin ini. pas yang disenengin ini udah bener-bener di depan mata dan aku sudah mempersiapkan diri, tiba-tiba diri ini mengurungkan niat dan memutuskan untuk melangkah mundur, kemudian menghilang pergi. alasannya, karena dari kecil udah sahabatan sama tidak percaya diri, jadinya ya begitu, sampe kebawa mimpi, miris sekali.
lanjut ya. masih di dalam mimpi; sampai beberapa hari setelah memutuskan untuk tidak melakukan hal yang disenengin itu tadi, tiba-tiba didatengin sama kesempatan lagi; mirip-mirip, tapi yang ini lebih baik, dengan skala kualitas yang lebih tinggi, proporsi tanggung jawab yang lebih besar, dan di waktu itu aku tidak berada dalam pilihan untuk bisa mengatakan tidak. jadi mau tidak mau ya harus mau. dari situ, sudah pasti ada perasaan tidak percaya diri, khawatir tidak akan memberikan yang terbaik, takut akan menghancurkan segalanya, takut akan mengecewakan dan mematahkan harapan bagi yang sudah percaya pada diri ini. klise, lagi-lagi, tapi memang begitu kenyataannya, kan? setiap orang pasti pernah mengalami perasaan seperti itu, berada dalam suatu keadaan memegang harapan dan kepercayaan begitu banyak orang. takut mengecewakan, takut tidak memberikan yang terbaik, takut terhadap sesuatu yang belum terjadi dan dilakukan. dari ketakutan itu, dari gelapnya ruangan siksaan dalam pemikiran itu, sebenarnya bisa timbul keyakinan untuk menciptakan usaha lebih baik lagi, sugesti positif kepada diri sendiri, menguatkan hati dan optimis menghadapi. itu yang terjadi selanjutnya di dalam mimpi, dan ketika itu sudah terjadi --hal yang tadi disenengin namun mundur untuk dilakukan karena tidak percaya diri, lalu kesempatan datang lagi dan tidak ada pilihan selain melakukannya-- menjadi sangat berkesan dan momennya terekam dengan amat baik, bikin diri ini jadi bahagia, dan ingin melakukannya lagi. padahal ini cuma terjadi di dalam mimpi, tapi seneng aja pas bangun dan nge-recall lagi, sama recall yang mimpi pertama tadi. dan lagi-lagi, semuanya terjadi atas izin Tuhan, karena Tuhan sepertinya ingin mengingatkan aku, agar selalu mengisi hati dengan yang baik-baik aja, dan berusaha untuk lebih percaya diri lagi, mengejar mimpi dan hal-hal yang disenangi. hehehe. terima kasih. Alhamdulillah =)
di dalam mimpinya, aku sempat berpikiran negatif terhadap seseorang, tumbuh rasa curiga, terlebih dahulu menciptakan praduga dan prasangka, tanpa sekalipun berniat mencari kebenaran sesungguhnya. dari awal sudah berpikiran tidak baik karena menemukan dan mulai merawat kesatuan rasa negatif; keraguan, ketidakpercayaan, kegelisahan, dan ketakutan yang berlebihan, sungguh, takarannya melebihi batas permukaan, tidak lagi bisa dikendalikan. sampai akhirnya disadarkan dengan ditunjukkan bukti nyata dari seorang lainnya, bahwa semuanya hanya berdasarkan pemikiran, semuanya dimulai dari diriku sendiri, dari kesatuan rasa negatif yang bikin diri jadi jahat, bikin hati jadi keruh, bikin semuanya jadi rumit.
mungkin kalau tadi siang nggak mimpi kayak gitu, praduga, prasangka dan curiga ini masih tetap melekat, sampai selama yang mereka mau, sampai selama yang aku ijinkan, sampai selama yang aku inginkan. mungkin kalau tadi siang nggak mimpi kayak gitu, aku bakalan bikin semuanya jadi makin ribet, rumit, riweh, hancur tak bersisa, hingga akhir klise yang melanda; rasa penyesalan dan muncul banyak pengandaian di masa nanti; kalau aja dulu aku nggak kayak begini, kalau aja dulu aku ngelakuin yang bener, kalau aja dulu aku lebih ngikutin hati, dan 'kalau aja dulu' lainnya.
Tapi, tidak selamanya ketiga term itu mengandung arti negatif. Semuanya kembali lagi pada situasi yang terjadi, cara manusia memaknainya dan menggunakannya.
Tuhan baik sekali, sudah menyadarkan melalui mimpi, agar diri ini segera membersihkan hati, dan hanya mengisinya dengan perasaan yang baik-baik saja, tanpa terkecuali. semoga tidak ada 'kesatuan rasa negatif' lain kali. Aamiin.
tema kedua yang juga masih di dalam mimpi adalah tentang rasa percaya diri dan memulai segala sesuatunya dengan pasti sejak kesempatan datang menghampiri. di dalam mimpi, ada satu hal yang dari kecil sudah aku senengin, pasti langsung semangat kalau melihat atau melakukan yang berhubungan dengan yang disenengin ini. pas yang disenengin ini udah bener-bener di depan mata dan aku sudah mempersiapkan diri, tiba-tiba diri ini mengurungkan niat dan memutuskan untuk melangkah mundur, kemudian menghilang pergi. alasannya, karena dari kecil udah sahabatan sama tidak percaya diri, jadinya ya begitu, sampe kebawa mimpi, miris sekali.
lanjut ya. masih di dalam mimpi; sampai beberapa hari setelah memutuskan untuk tidak melakukan hal yang disenengin itu tadi, tiba-tiba didatengin sama kesempatan lagi; mirip-mirip, tapi yang ini lebih baik, dengan skala kualitas yang lebih tinggi, proporsi tanggung jawab yang lebih besar, dan di waktu itu aku tidak berada dalam pilihan untuk bisa mengatakan tidak. jadi mau tidak mau ya harus mau. dari situ, sudah pasti ada perasaan tidak percaya diri, khawatir tidak akan memberikan yang terbaik, takut akan menghancurkan segalanya, takut akan mengecewakan dan mematahkan harapan bagi yang sudah percaya pada diri ini. klise, lagi-lagi, tapi memang begitu kenyataannya, kan? setiap orang pasti pernah mengalami perasaan seperti itu, berada dalam suatu keadaan memegang harapan dan kepercayaan begitu banyak orang. takut mengecewakan, takut tidak memberikan yang terbaik, takut terhadap sesuatu yang belum terjadi dan dilakukan. dari ketakutan itu, dari gelapnya ruangan siksaan dalam pemikiran itu, sebenarnya bisa timbul keyakinan untuk menciptakan usaha lebih baik lagi, sugesti positif kepada diri sendiri, menguatkan hati dan optimis menghadapi. itu yang terjadi selanjutnya di dalam mimpi, dan ketika itu sudah terjadi --hal yang tadi disenengin namun mundur untuk dilakukan karena tidak percaya diri, lalu kesempatan datang lagi dan tidak ada pilihan selain melakukannya-- menjadi sangat berkesan dan momennya terekam dengan amat baik, bikin diri ini jadi bahagia, dan ingin melakukannya lagi. padahal ini cuma terjadi di dalam mimpi, tapi seneng aja pas bangun dan nge-recall lagi, sama recall yang mimpi pertama tadi. dan lagi-lagi, semuanya terjadi atas izin Tuhan, karena Tuhan sepertinya ingin mengingatkan aku, agar selalu mengisi hati dengan yang baik-baik aja, dan berusaha untuk lebih percaya diri lagi, mengejar mimpi dan hal-hal yang disenangi. hehehe. terima kasih. Alhamdulillah =)
sekarang sudah di Jember,
1.4-5.2019.
dan lagi; menulis di tengah kesunyian,
diantara perbatasan malam dan pagi menjelang.
dan lagi; menulis di tengah kesunyian,
diantara perbatasan malam dan pagi menjelang.
Comments
Post a Comment