tidak begitu berarti, tapi layak hadir dan dinikmati
waktu;
kenapa semuanya terlihat selalu bergantung kepadamu. tidak bisakah kau berhenti sebentar, memberi kesempatan kepada setiap-setiap yang memerlukan ruang untuk sekadar bernafas, bergerak, merasa, tidak terus menerus terpaku akan presensimu?
kenapa semuanya terlihat selalu bergantung kepadamu. tidak bisakah kau berhenti sebentar, memberi kesempatan kepada setiap-setiap yang memerlukan ruang untuk sekadar bernafas, bergerak, merasa, tidak terus menerus terpaku akan presensimu?
karena ada waktu, hidup jadi diisi dengan bermacam-macam tuntutan; tujuan, pencapaian, keberhasilan, rencana, keputusan, pemikiran, sikap, perjuangan melupakan, menjadi sembuh, menemukan, sampai pada kegiatan kecil seperti mengupil sekalipun. pernah nggak, pas lagi ngupil, gak lama setelahnya buru-buru ngebuang upilnya atau langsung cuci tangan, biar gak ketahuan kalau habis ngupil. kayak berusaha kabur dari kejaran dementor. terlepas dari pemikiran malu kalau ada yang lihat dan takut dibilang jorok, itu dipengaruhi waktu juga kan? iya kan? iyain aja. iya.
karena waktu berbanding lurus dengan pertambahan usia, katanya hidup seseorang akan semakin sering dipenuhi dengan berpikir, tidak peka, menjadi sensitif, lebih tertutup, sedikit bahagia, banyak bersedih, mengubah sederhana menjadi kompleks, membohongi perasaan, tidak jujur dengan diri sendiri. dan sepertinya semua berujung kepada menyakiti diri. apa hidup memang direncanakan seperti itu, bahagia di awal, bersedih di akhir? rasanya tidak. waktu dan bahagia adalah dua hal yang berbeda, waktu sudah mutlak tidak bisa dihindari, tapi tidak dengan bahagia. seperti kata quote akun-akun twitter dan instagram, bahagia adalah pilihan. iya, benar. memang seperti itu, kan.
diam, sedikit bicara, lebih banyak memperhatikan; sedari putih abu-abu, sampai sekarang, sepertinya. itu yang katanya terlihat dari diri ini. daridulu selalu menghindar untuk menjadi menonjol, tidak ingin menjadi pusat perhatian dan diperhatikan kerumunan, terlalu takut dengan banyaknya tatapan diikuti beragamnya pemikiran. bukannya benci, bukannya tidak suka, tapi lebih merasa tidak pantas, kenapa semua pandangan tertuju kepada satu ini, yang bahkan untuk bersuara saja selalu bergetar, terlalu gugup, dan banyak berkeringat. apa yang ditunggu? apa yang bisa diharapkan? tidak ada. kenapa untuk menyampaikan suara di pikiran dan berbicara sebentar saja aku terlalu takut, jelas sekali memperlihatkan sebegitu rendahnya kepercayaan kepada diri sendiri, atau perasaan itu bahkan tidak ada sama sekali? kadang iri sama yang bisa dengan gampangnya ngomong di depan banyak orang, menyampaikan pemikirannya, bahkan sampai bisa berdebat. tapi, karena iri dan debat itu tidak baik, sekarang sudah tidak lagi merasa begitu, dan lebih menyukai diri yang seperti ini.
sampai ada di satu hari yang belum sangat lalu, ketika itu, sedang menyerahkan lembar jawaban ujian tengah semester kepada satu dosen yang cukup banyak ditakuti teman-teman, termasuk diri ini tentunya, tapi rasa itu takarannya lebih sedikit dibandingkan rasa mengagumi, karena beliau benar-benar wanita yang sangat baik, ramah, berwibawa, selalu hadir dan tepat waktu, dan tegas, terlebih saat menjalankan profesinya, one in a million, kalau kata orang-orang, yang entah siapa orang-orang itu, tapi benar, beliau ini memang one in a million. bersyukur bisa berada di jurusan ini, karena semua ilmunya benar-benar membuatku belajar lebih banyak tentang cara hingga proses berinteraksi, diajari melakukan kiat-kiat jitu berkomunikasi udah kayak judul buku sbmptn di gramedia sama toga mas, hidup berdampingan dengan yang lain, terus belajar untuk bisa menumbuhkan simpati sampai empati, dan ada satu lagi yang terpenting, akan dilanjutkan setelah kalimat ini, sedang disusun pelan-pelan. tidak, bukan berarti jurusan lain tidak memberikan ilmu seperti yang disebutkan di atas, hanya merasa saja, bahwa benar-benar sudah cocok di jurusan ini, seperti galih dan ratna, dipertemukan karena memang sudah begitu takdirnya. wauw, jurusan apakah itu? kamu tidak tertarik untuk mengetahuinya ya blogspot, yasudah tidak apa-apa.
di jurusan ini pula, semakin merasa senang dengan keberadaan ujian; ujian tengah semester, ujian akhir semester, kuis kecil, dan teman-temannya yang serupa. semua pertanyaannya membuatku bisa menjawab dan bercerita sesuka hati. iya, mengarang bebas maksudnya. ohiya lanjut, dan di saat ujian tengah semester dari ibu dosen yang sedikit kutakuti tapi lebih banyak kukagumi ini, lima pertanyaannya itu sangat menyenangkan untuk dijawab. di lembar jawabannya, semuanya benar-benar ditulis sesuai pemikiran, rasanya seperti sedang curhat, ya seperti menulis postingan ini sekarang. begitu panjangnya sampai tidak ada lagi baris tersisa dari empat halaman itu, dan diri ini sangat puas melihatnya, mengingat saat itu masih semester satu masa perkuliahan. wah, congkak sekali ya. tidak apa-apa, aku menyukai diriku yang congkak seperti ini. seminggu setelahnya, saat menerima kembali lembar jawabannya, ada beberapa baris tulisan kecil yang bikin merenung, sampai sekarang masih bisa membuat tersenyum setiap dibaca ulang. kurang lebih begini isinya:
"dhini, berani! harus bisa percaya diri! kamu bisa! harus berani dan percaya diri!!!"
kalimat itu, dengan banyaknya jumlah tanda serunya itu, begitu menghibur saat membacanya, dan sampai sekarang selalu ingat dengan pesan itu. kekuatan sebuah tulisan yang ditemani keyakinan dari diri memang ternyata tidak main-main ya. lembar jawabannya masih tersimpan dengan baik, menjadi pengingat dan penyemangat setiap kali diri ini lupa untuk mempercayai keberadaannya sendiri. inilah satu yang terpenting itu, menjadi percaya diri. walaupun sampai sekarang masih belum sepenuhnya merasakan, setidaknya sudah bisa berteman dengannya; percaya diri. memang belum akrab, sedang diusahakan.
awalnya merasa dari sma sampai sekarang tidak ada perubahan berarti, tapi ternyata tidak juga. saat beberapa hari lalu bertemu dan bertukar cerita dengan teman semasa putih abu-abu itu, katanya, ada yang berubah, sekarang jadi lebih banyak berbicara, tidak lagi diam tanpa eskpresi duduk di pojokan kelas seperti dulu. sekarang sudah berani menambah beberapa tingkat volume suara, juga sudah bisa berdiri di hadapan banyak mata, perlahan memandangi sudut-sudut yang terisi penuh dan masih terasa menyesakkan itu. tapi saat berdiri di hadapan beberapa orang dengan beberapa pasang mata yang semakin lama semakin terlihat banyak jumlahnya, tetap saja kumpulan perasaan yang dulu masih ada; suara bergetar, gugup, berkeringat. bedanya sekarang kumpulannya bertambah satu anggotanya, percaya diri. semoga satu anggota ini semakin bersungguh untuk mempertahankan keberadaannya dalam perkumpulan, meyakinkan anggota lainnya untuk tidak terlalu menampakkan wujud asli, membiarkannya menjadi yang terdepan setiap kali semua anggotanya berkumpul kembali, menatap berpasang-pasang mata itu lagi.
setelah memikirkan perkataan satu teman ini, mungkin memang benar, sekarang sudah tidak lagi seperti dulu, walaupun mungkin belum benar-benar berubah. senang mengetahuinya, karena setelah beberapa tahun itu, ternyata bisa berubah menjadi lebih baik, dan lagi ada yang menyadari. bagi orang lain mungkin bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, tapi bagiku ini sebuah prestasi, karena, ya, dari kecil gak punya banyak prestasi, menyedihkan ya. gak apa-apa kok, enggak sedih. darisini jadi sadar juga, kalau semakin nambah umur, bukan berarti semakin jauh dengan bahagia, tapi lebih kepada memilih opsi untuk bagaimana bisa bertemu dengan bahagia itu, caranya semakin banyak, pemaknaan bahagia-nya pun semakin beragam. tunggu, senang dan bahagia kan berbeda. hmm, benar juga, memang berbeda, senang itu adiknya bahagia, sering senang, lama-lama menjadi bahagia kan? eh, bukan ya? yasudah biarin aja, namanya juga manusia.
walaupun mungkin tidak disadari, berubah itu adalah sebuah pilihan, sama seperti bahagia. klise. siapa saja bisa menentukan pilihannya, ingin tetap sama, atau memilih berubah, ingin berubah menjadi lebih baik, atau sebaliknya. ingin berubah menjadi harry potter, boleh kok, pergilah menemui JK. Rowling, coba tanyakan bagaimana caranya.
kalau ada yang mengatakan "kok kamu berubah sih" dengan nada seakan menghakimi, jawab saja "ya gimana, foto instagrammu aja bisa berubah jadi bagus begitu, masa aku enggak." kalau instagramnya tidak ada isinya, coba ganti dengan menyasar pada storiesnya. kalau storiesnya tidak bagus, coba cari analogi yang lain, berpikirlah.
kok tulisannya jadi panjang ya. judulnya juga panjang. maksudnya apa. apa yang tidak begitu berarti, tapi layak hadir dan dinikmati? coba dibaca ulang dari atas.
kelamaan ya?
yasudah, coba dicari satu kata yang warnanya seperti bungkus lemper.
sekian. akan disambung lagi kapan-kapan. ohiya, jadi apa kaitannya antara waktu, bahagia, dan perubahan? sebentar. sedang dipikirkan ulang.
baiklah. ini dia.
waktu menuntut manusia untuk terus melakukan perjalanan dan pergerakan. dengan dua hal itu, waktu juga lah yang memberikan manusia pilihan, ingin merasakan perubahan, atau selamanya konstan. dengan memilih perubahan, berarti juga memilih bahagia, entah sementara, atau mungkin selamanya. kembali lagi, semua bergantung kepada pilihan dan pemaknaan. jadi gimana? muter-muter terus dari awal sampe akhir. pusing ngebacanya. sama.
ohiya lagi, maaf ya, kalau di paragraf kedua ngomongin ngupil. meskipun terdengar jorok, tapi semua orang melakukannya kan? sistem pernapasan saja membutuhkan upil, supaya salah satu pekerjaannya yaitu menyaring kotoran dalam hidung tidak sia-sia, akhirnya upil muncul. ipin pun membutuhkan upil biar bisa gantian ngomong "betul betul betul".
nggak lucu, memang sedang tidak melucu. tidak ahli melakukan itu.
surakarta,
tumben hari ini nggak hujan,
atau sudah, tapi nggak sadar?
yasudah, namanya juga manusia.
2.18.2019.
Comments
Post a Comment