pertama
Wazcroulth, Musim Dingin, 2018.
"Orion."
"Kanara."
Keduanya berjabat tangan dan saling tersenyum, sama-sama menciptakan lengkungan setengah lingkaran yang turut hadir bersama pada masing-masing rupa. Dua senyuman ketulusan tanpa ikutnya campur tangan rencana, akhirnya telah bertemu.
"Orion beberapa kali mengunjungi toko. Setiap kali kesini selalu melirik ke arah pinipo. Kebetulan hari ini dia datang lagi, sudah pasti perhatiannya hanya milik pinipo, jadilah tiga puluh menit lalu aku tawarkan kesempatan agar ia bisa berkenalan dengan pinipo -oh, maaf, dengan piano itu, Orion, kau mengerti maksudku, kan? Dia kuberi nama pinipo, lucu sekali ya namanya. Dan, Or, Kanara ini sudah seperti adikku sendiri, hampir setiap hari dia kesini, duduk di meja sebelah jendela besar di ujung sana, ditemani roti, chocolate milkshake, dan buku yang selalu berbeda setiap kali ia datang, -oh, juga dengan sesekali memandangi pinipo, sepertinya dia sangat tertarik pada pinipo-ku, sama sepertimu. Hei, Kana, kau beruntung bisa melihat sekaligus mendengarkan konser perdana Orion hari ini." ucap perempuan bercelemek, bergantian menjelaskan pada kedua orang di depannya dengan panjang lebar.
"Ah, begitu ya. Terima kasih untuk konser perdananya. Aku sangat menikmatinya, Orion." lagi-lagi satu senyuman ketulusan terciptakan.
"Terima kasih sudah berbaik hati menikmatinya, Kanara." tidak hanya senyuman ketulusan -juga, tentu saja- kali ini disertai dengan satu alasan berarti.
-----
Covyrro, Musim Dingin, 2015.
Kali ini, Kanara melalui sembilan jam perjalanan Covyrro-Wazcroulth bersama bus bernama Glass-Sky. Ia tahu bahwa Glass-Sky memang menghubungkan kota kelahiran dengan kota keberadaan kampusnya yang hijau dan sejuk dipenuhi bermacam tanaman juga pepohonan itu, tapi sekalipun tidak pernah terpikirkan di benaknya untuk merasakan kenyataan duduk di kursi penumpang Glass-Sky, setidaknya belum, sampai hari ini. Kanara sudah terbiasa melakukan perjalanannya bersama kereta, begitu seringnya sampai segala hal yang dilalui dalam setiap perjalanan sudah terekam dengan baik dan jelas, mulai dari tata letak nomor kursi, jam-jam kehadiran perempuan -biasanya paruh baya atau bergantian dengan yang masih muda- mendorong rak dengan roda kecil berisikan penuh aneka camilan, jam kedatangan petugas kebersihan beberapa kali mengambil sampah sisa makanan dan minuman, sampai letak beberapa tempat yang dilewati dan bisa ia lihat dari balik jendela. Dua hari lalu, karena keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya -ya, sudah dapat dipastikan dengan jelas- Kanara kehabisan tiket kereta tujuan Wazcroulth. Rencananya untuk kembali ke kota perantauan pun sempat ia batalkan, tentu saja karena ia berpikiran bahwa Tuhan sudah sangat setuju dengannya untuk tetap tinggal di rumah saja, walaupun pada akhirnya ia tetap harus kembali juga, kemalasannya terkadang membuatnya menjadi terlalu bodoh dan berujung kepada memikirkan diri sendiri, tidak menyadari orangtuanya selalu bekerja keras dan memberikan yang terbaik, apapun, untuknya dan dua saudaranya.
Pilihan selain Glass-Sky adalah UpLand, sebuah nama maskapai pesawat yang kadang menjadi teman perjalanannya jika ia sedang tidak punya banyak waktu atau diburu badai tugas dan kewajiban lainnya sebagai mahasiswa. Tentu saja tanpa ragu ia selalu memilih kereta, karena meskipun selalu menjadi maskapai termurah, UpLand sudah pasti akan menjauhkannya dari makanan juga dessert enak, dan ini yang terpenting, UpLand akan membuat tabungannya bersedih. Entah kenapa nama bus dan pesawat bisa seperti tertukar, maksudnya, tidakkah lebih cocok jika bus yang kau naiki bernama UpLand, dan di hari lainnya kau terbang bersama Glass-Sky. Sepertinya Kanara perlu mempertimbangkan lagi mimpinya untuk menjadi arsitek dan berganti sebagai pemilik perusahaan otobus serta maskapai, karena sebelumnya memang tidak pernah terlintas sekalipun, hingga hari ini. Dalam benaknya, perjalanan kali ini memang tidak seperti biasanya, tapi mungkin akan jauh lebih menarik, dan memberikan satu momen baik lagi dalam rekaman cerita hidupnya.
Tidak apa-apa, Kanara. Kau tidak sedang berada dalam series drama genre action atau thriller, atau hal tak terduga lainnya. Semuanya akan baik-baik saja, jangan terlalu mendramatisir keadaan.
Begitulah satu suara yang kemudian ia putuskan untuk didengar dan diyakini, hingga tiba di tempat pemberhentiannya di Wazcroulth nanti.
Sampai di dalam bus, Kanara melihat nomor kursi pada tiket di tangannya, tiga detik kemudian mulai mencari tempat ia akan menghabiskan sembilan jam perjalanan daratnya. Hal yang selalu dilakukan saat sudah menemukan tempatnya untuk duduk ketika melakukan perjalanan adalah menikmatinya dengan cara Kanara; memasang earphone yang terhubung dengan smartphone untuk mendengarkan playlist buatannya, buku untuk dibaca -apapun isi di dalamnya- dan sesekali melihat ke luar jendela, tipikal perempuan yang hidup sebagai karakter dalam novel. Tapi, Kanara bukan karakter novel, dan kepribadiannya tidak bisa disamakan dengan karakter novel manapun, walaupun novel termasuk salah satu kesukaannya, karena jika diberi pilihan, ia lebih memilih komik dan cerita dongeng dibandingkan tulisan berisi cerita yang sebagian besar alurnya sudah bisa ia tebak. Sudah jelas baginya bahwa hidup menjadi anak-anak jauh lebih indah daripada hadir dalam dunia orang dewasa. dan, ngomong-ngomong, semua orang sepertinya melakukan beberapa hal itu saat berada dalam perjalanan, tapi Kanara tidak terlalu peduli untuk menjadi biasa, karena ini adalah rekaman cerita hidupnya, yang memang biasa saja.
---
Glass-Sky terdengar begitu asing bagi seseorang yang sudah terbiasa dengan Transverse. Baru pertama kali ini Orion akan melakukan perjalanan darat dengan jarak cukup jauh setelah biasanya selalu akrab bersama ketinggian, awan, dan langit yang sungguh terasa dekat. Sayangnya, tiket Transverse sudah tidak lagi tersedia di hari pilihan keberangkatan Orion dari Covyrro menuju Wazcroulth. Jika bukan karena sahabatnya meminta untuk menemuinya saat itu juga setelah mengatakan ada hal penting yang ingin disampaikan dengan menegaskan persoalan yang menyangkut hidup serta matinya bersama nada suara sangat serius, sudah sangat dipastikan Orion tidak akan mau terbang dari Wazcroulth, kota tempat tinggal dan kelahirannya yang sudah sangat nyaman baginya, menuju Covyrro, kota yang kini menjadi tempat sahabatnya itu tinggal. Setelah mendarat dengan selamat di Covyrro, teman bermain sekaligus tetangga masa kecilnya itu benar-benar kaget dan sama sekali tidak menyangka bahwa Orion sungguh mempercayai perkataannya, terbang menemuinya, dan berdiri di depan pintu rumahnya dengan suara sedikit bergetar karena kedinginan, dua hari lalu. Belakangan Orion baru mengetahui bahwa alasan sebenarnya sahabatnya mengatakan hal seperti itu adalah karena sehari setelah mereka melakukan face time merupakan hari ulang tahun Orion -ya, Orion benar-benar lupa dengan ulang tahunnya sendiri- dan itu murni gurauan belaka. Sahabatnya sudah mengenal Orion dan tahu pasti bahwa jika Guinness World Records membuat rekor berkategori "Manusia dengan Sikap Sangat Dingin dan Tidak Peduli dengan Apapun Kecuali Keluarga dan Mimpinya", sudah jelas Orion yang akan mendapatkan gelar itu, tidak perlu diragukan. Kenyataannya, saat ia melihat Orion berada di hadapannya secara langsung dengan hidung memerah karena dinginnya udara Covyrro hari itu, membuatnya seketika berkaca-kaca dan bersumpah akan selalu menjaga sahabat kecilnya itu seumur hidupnya.
Jika diijinkan untuk memilih, sejujurnya Orion akan merasa nyaman kembali ke Wazcroulth dengan kereta, namun sekali lagi, karena keberuntungan juga sedang tidak ingin berpihak kepadanya, Glass-Sky adalah teman baru yang hadir dalam perjalanan pulangnya. Tiba di tempat keberangkatan bus, ia berjalan agak cepat menuju kendaraan berwarna perpaduan biru langit dan putih awan bertuliskan Glass-Sky. Sedikit mengerutkan dahi, ia merasa agak aneh dengan nuansa desain eksterior dan nama bus yang lebih cocok sebagai desain serta nama dari teman Transverse, tapi hal itu hanya bertahan setengah detik saja di pikirannya. Orion bergegas masuk ke dalam Glass-Sky untuk pertama kalinya.
Tidak butuh lama bagi Orion untuk mencari kursi tempatnya duduk, sudah jelas karena ia bisa memperkirakan letak kursinya hanya dengan melihat nomor yang tertera pada tiket, sekalipun belum pernah menaiki Glass-Sky, tentu saja karena dia adalah Orion. Dari tempatnya berdiri di dekat pintu depan di dalam bus, terlihat seorang perempuan menggunakan earphone dan membaca buku sedang duduk di sebelah kursinya.
Bad luck, Orion. Sungguh. Dari sekian banyak kursi kosong di dalam bus ini? Baiklah, hanya sembilan jam. Tidak apa-apa. Semoga saja tidak berisik dan tidak ada gangguan yang muncul.
Setelahnya, ia berjalan menuju letak kursi yang sesuai dengan yang tercetak pada tiket. Ketika selesai meletakkan tasnya di dalam bagasi kabin, Orion kemudian berhati-hati duduk di kursinya, sebisa mungkin berusaha tidak melihat ke samping, seolah tidak ingin berurusan sama sekali dengan perempuan asing di sebelahnya.
Semenit kemudian, ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh bahu kirinya, pelan, namun berulang. Yang pertama ia abaikan, kedua sudah merasakan sedikit ganguan, dan untuk yang ketiga akhirnya ia menoleh disertai senyuman paksaan, yang ternyata memang berasal dari seseorang di sebelahnya, lebih tepatnya si perempuan yang tadi mengenakan earphone dan membaca buku entah apa isinya, dirinya tidak ingin tahu. Perempuan itu menggunakan jari telunjuk tangan kanannya untuk menyentuh bahu Orion, mendorongnya dengan tiga kali gerakan, seperti gerakan mengetuk pintu, tapi ini hanya menggunakan satu telunjuk dan dengan pelan. Kemudian, ia menunjukkan selembar kertas kira-kira berukuran 7x10,5cm, mirip seperti sesuatu yang beberapa menit lalu sempat ada di tangan Orion, oh ya, tiket Glass-Sky pertamanya. Masih dengan posisi yang sama, sunyi, tanpa disertai keluarnya satu dua kata bersuara. Orion memandangi perempuan yang wajahnya berjarak tepat lima belas sentimeter di hadapannya, dan kini sepasang mata mereka saling bertemu.
Sedetik, dua detik, lima detik, hingga sepuluh detik berlalu.
Orion mengerdipkan dua matanya sampai dua kali, setelah beberapa saat merasakan sesuatu yang tidak biasa baginya, sungguh, ia juga tidak tahu itu apa, dan berusaha kembali pada realitas. Penglihatannya kemudian beralih kepada selembar tiket Glass-Sky miliknya yang berada di tangan orang asing yang baru saja ditatapnya selama sepuluh detik, satu rekor baru yang tercipta sekaligus dengan nahas mematahkan sebuah pasal yang berbunyi "Menatap orang asing lebih dari lima detik sama hal nya dengan menyia-nyiakan lima per seribu atau nol koma nol nol nol lima detik waktu berhargaku" dalam "Buku Sejarah dan Undang-Undang Tata Kehidupan Orion". Sementara perempuan di depannya, tetap dengan ekspresi datarnya, masih memegang tiket Orion yang dua menit sebelumnya terjatuh saat lelaki itu meletakkan barang bawaannya di bagasi kabin, yang pada akhirnya selembar kertas itu lebih memilih untuk mendarat tepat di wajahnya, tanpa ada unsur rekayasa belaka, tentu saja.
Orion -dengan tatapan bingung bercampur sedikit merasa bersalah karena sebelumnya sudah menunjukkan raut wajah kesal, yang kini berusaha tidak ia tampakkan- mengulurkan tangan kanan dan mengambil tiketnya pelan.
"Terima kasih." ucapnya, tanpa ada intonasi, dengan suara rendah sedikit bariton khasnya.
Perempuan di sebelahnya mengangguk sekali sambil tersenyum tipis, tiga detik yang begitu lambat sampai membuat daerah sekitar perut Orion bergetar tidak wajar. Ternyata getarannya berasal dari smartphone yang dari awal memang diletakkan di satu-satunya saku yang menempel pada hoodie-nya. Tidak lama, perempuan itu kembali menenggelamkan diri dalam buku bacaannya, sementara Orion merogoh saku hoodie-nya, dan sedikit kesal -lagi- membaca nama yang tertera pada layar berukuran lima inci di genggaman tangan kirinya, siapa lagi kalau bukan orang yang sudah membuatnya menaiki kendaraan bernama Glass-Sky ini, tapi rasa kesalnya perlahan menghilang begitu melihat selembar tiket yang berada di tangan kanannya. Mungkin bukan karena tiketnya, tapi karena -ya, sudah jelas kalian tahu karena apa.
Hal selanjutnya yang dilakukan Orion; sedikit menoleh, kemudian melirik, memindahkan kedua bola matanya ke bagian kiri, sangat pelan. Ia penasaran dengan buku yang dibaca oleh perempuan di sebelahnya. Sungguh, ini bukan Orion sama sekali, bahkan ini tidak tertulis dalam Buku Sejarah dan Undang-Undang Tata Kehidupan Orion, tapi ia tidak peduli dengan itu. Kemudian, sesuatu yang ia peroleh dari rasa keingintahuannya bukanlah buku yang menarik perhatian sang perempuan, melainkan nyala layar smartphone yang berada di pangkuan perempuan itu. Sekilas terlihat gambar seperti seekor kucing campuran burung hantu dan kelinci raksasa berwajah datar dengan dua telinga berdiri tegak ke atas, badan berwarna abu-abu yang di tengahnya terdapat lingkaran melonjong berwarna putih berpadu kuning pudar serta beberapa segitiga melengkung ke atas di dalamnya, yang kemudian ia yakini sebagai cover album dari lagu yang sedang berputar. Pada bagian bawah gambar kucing campuran burung hantu dan kelinci raksasa tadi terdapat dua baris tulisan kecil.
Path of the Wind (Tonari no Totoro Ost.)
Joe Hisaishi
Dua detik kemudian, Orion melirik si pendengar lagu yang sekarang tengah menatap ke arah luar jendela. Wajahnya masih bisa terlihat, ekspresinya jelas sekali menunjukkan ia menyukai lagu yang saat ini sedang didengarkan. Senyuman sederhananya yang mengatakan itu pada hati Orion.
Tonari no Totoro Ending Theme Song Piano Version (Tonari no Totoro Ost.)
Joe Hisaishi
Sepertinya lagunya sudah berganti, tapi masih dengan album yang sama. Dan juga, masih dengan senyuman yang sama, bahkan lengkungannya terlihat bertambah panjang.
Ah, sebegitu baguskah lagu-lagu dari kelinci raksasa berwarna abu-abu kuning pudar itu, sampai dengan hanya mendengarnya saja sudah bisa membuatnya terlihat begitu senang.
-------------------------
Orion dan Kanara lagi. tiba-tiba pengen ngelanjutin mereka, lagi. aku tahu cerita mereka sangat tidak jelas, tidak ada pendetailan latar tempat - latar objek sekitar - latar suasana, deskripsi rinci tentang kedua karakter, belum adanya penulisan tata bahasa beserta komponennya yang benar, banyak pengulangan kata yang bikin bosen dan jadi gak tertarik buat ngelanjutin baca, dan lagi alurnya yang sudah sangat mainstream, aneh, nggak masuk akal; kenapa Orion yang diceritakan sebagai orang yang dingin banget bisa langsung suka sama Kanara hanya dengan berlangsungnya sepuluh detik tak berdasar tanpa penjelasan makna dan alasan. sebenernya ada hal lain yang terjadi selain yang ditulis di atas, tapi karena kelelahan ditambah kemageran ini sudah mencapai puncaknya, jadi lebih baik begitu saja, wong juga tidak direncanakan. menulis ini agar suara-suara di dalam diri bisa tersampaikan, puyeng juga kepalanya karena dengerin mereka ngomong terus-terusan. dan barutau, kalau ternyata disini ada toko roti bernama Orion, hahaha, hahaha, hahaha. dulu memutuskan memberi nama Orion karena tertarik banget sama rasi bintang dan dunia astronomi.
ohya, selamat hari buku sedunia di tanggal kemarin. semoga semakin banyak penghuni bumi yang ingin menyelami lautan cerita pengetahuan, sudut pandang baru, mimpi dan imajinasi. tentu saja dengan semoga yang sama untukku. ya sudah, akhir kata,
Orion sama sekali tidak percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama, karena itu sangat kekanak-kanakan, dan tentu ia meyakini bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya. Tapi sepertinya Tuhan tidak satu pendapat dengannya. Pada akhirnya, rencana tidak berarti apa-apa jika takdir sudah memutuskan untuk ikut serta.
-------------------------
Orion dan Kanara lagi. tiba-tiba pengen ngelanjutin mereka, lagi. aku tahu cerita mereka sangat tidak jelas, tidak ada pendetailan latar tempat - latar objek sekitar - latar suasana, deskripsi rinci tentang kedua karakter, belum adanya penulisan tata bahasa beserta komponennya yang benar, banyak pengulangan kata yang bikin bosen dan jadi gak tertarik buat ngelanjutin baca, dan lagi alurnya yang sudah sangat mainstream, aneh, nggak masuk akal; kenapa Orion yang diceritakan sebagai orang yang dingin banget bisa langsung suka sama Kanara hanya dengan berlangsungnya sepuluh detik tak berdasar tanpa penjelasan makna dan alasan. sebenernya ada hal lain yang terjadi selain yang ditulis di atas, tapi karena kelelahan ditambah kemageran ini sudah mencapai puncaknya, jadi lebih baik begitu saja, wong juga tidak direncanakan. menulis ini agar suara-suara di dalam diri bisa tersampaikan, puyeng juga kepalanya karena dengerin mereka ngomong terus-terusan. dan barutau, kalau ternyata disini ada toko roti bernama Orion, hahaha, hahaha, hahaha. dulu memutuskan memberi nama Orion karena tertarik banget sama rasi bintang dan dunia astronomi.
ohya, selamat hari buku sedunia di tanggal kemarin. semoga semakin banyak penghuni bumi yang ingin menyelami lautan cerita pengetahuan, sudut pandang baru, mimpi dan imajinasi. tentu saja dengan semoga yang sama untukku. ya sudah, akhir kata,
Orion sama sekali tidak percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama, karena itu sangat kekanak-kanakan, dan tentu ia meyakini bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya. Tapi sepertinya Tuhan tidak satu pendapat dengannya. Pada akhirnya, rencana tidak berarti apa-apa jika takdir sudah memutuskan untuk ikut serta.
Comments
Post a Comment