akhirnya
sekuat apapun keinginanmu untuk berusaha menjadi mandiri dan tidak ada niatan sedikitpun untuk mau mendapatkan bantuan orang lain, tapi yang ada malah terlihat cukup menyedihkan dan udah kayak anak ilang, tetep aja pada akhirnya akan ada orang lain yang mengulurkan tangannya, memberikan waktu dan perhatiannya padamu.
sekeras kepala bagaimanapun dirimu untuk berusaha tidak membutuhkan orang lain dan melakukan segala sesuatunya sendiri, bertindak sangat individualis, tetep aja pada akhirnya kamu akan bertemu dengan satu waktu saat segalanya yang berporos dalam duniamu tidak lagi bisa kamu tampung, dan kamu membutuhkan satu orang lain yang dengan rendah hati serta sabar untuk bersedia menemani, mendengarkan apapun ceritamu. satu orang saja sudah cukup.
"sendirian itu gak enak, dhin."
kata seseorang, lima hari lalu.
memang nggak enak ya ternyata. zona nyaman, atau area pertahanan itu mengerikan, sungguh. di satu sisi, sendiri adalah waktu berharga dan kesenangan untuk introverts. tapi, sisi lainnya mengatakan, ada waktunya agar kamu juga bisa merasakan nyamannya kebersamaan, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, kan? saling bergantung, saling membutuhkan, saling memberi perhatian, dan saling-saling lainnya.
dhinira yang dulu adalah dhinira yang selalu menolak untuk diajak kemanapun oleh orang-orang yang tidak bisa masuk ke dalam area pertahanannya. sampai pada akhirnya, makin nambah umur makin sadar, kalau gitu terus kapan bisa berproses dan jadi lebih baik lagi?
dhinira yang sekarang adalah dhinira yang masih perlu banyak belajar untuk bisa lebih banyak bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik, temen-temen yang selalu perhatian dan berusaha untuk ngajak keluar dari area pertahanan yang mengerikan itu, gak ada bosen dan capek-capeknya sama sekali buat selalu ngajakin kemana-mana bareng-bareng, walaupun udah ditolak berkali-kali, dengan berbagai alasan, yang aku sendiri sampe sekarang masih mikir, kenapa daridulu susah banget buat membaur sama orang lain dan temen-temen, seneng banget kemana-mana sendirian.
yah, intinya, sendiri itu nggak enak. nggak ada yang bisa diajak ngomong. ketika suara-suara di kepala udah banyak banget dan ngerasa kapasitas daya tampungnya sudah memasuki danger, mau dikemanakan suara-suara itu kalau nggak dikeluarin?
memendam itu tidak baik. sedikit, sedikit, sedikit, kalau udah banyak banget tahu kan akan bagaimana. kembali lagi, mengerikan.
"kita bikin podcast buat nemenin dhinira kalo lagi ngerjain kembang dan gak ngapa-ngapain di kamar, biar gak ngerasa sendirian."
"panggilan kita, maksudnya, para pendengar, kalau ada, dhinira. kenapa? karena? ada lah."
"untuk para dhinira di luar sana yang sedang mengerjakan kembang..."
ya meskipun aku tau itu cuma asal ngomong aja dan jadi satu alasan tambahan, hahaha. tetap terima kasih ya, kalian berdua.
dan terima kasih juga, untuk yang sudah menyadarkan dhinira, dengan mengatakan kalau sendirian itu gak enak. yep, aku mengakui itu, akhirnya.
sekeras kepala bagaimanapun dirimu untuk berusaha tidak membutuhkan orang lain dan melakukan segala sesuatunya sendiri, bertindak sangat individualis, tetep aja pada akhirnya kamu akan bertemu dengan satu waktu saat segalanya yang berporos dalam duniamu tidak lagi bisa kamu tampung, dan kamu membutuhkan satu orang lain yang dengan rendah hati serta sabar untuk bersedia menemani, mendengarkan apapun ceritamu. satu orang saja sudah cukup.
"sendirian itu gak enak, dhin."
kata seseorang, lima hari lalu.
memang nggak enak ya ternyata. zona nyaman, atau area pertahanan itu mengerikan, sungguh. di satu sisi, sendiri adalah waktu berharga dan kesenangan untuk introverts. tapi, sisi lainnya mengatakan, ada waktunya agar kamu juga bisa merasakan nyamannya kebersamaan, karena Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, kan? saling bergantung, saling membutuhkan, saling memberi perhatian, dan saling-saling lainnya.
dhinira yang dulu adalah dhinira yang selalu menolak untuk diajak kemanapun oleh orang-orang yang tidak bisa masuk ke dalam area pertahanannya. sampai pada akhirnya, makin nambah umur makin sadar, kalau gitu terus kapan bisa berproses dan jadi lebih baik lagi?
dhinira yang sekarang adalah dhinira yang masih perlu banyak belajar untuk bisa lebih banyak bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik, temen-temen yang selalu perhatian dan berusaha untuk ngajak keluar dari area pertahanan yang mengerikan itu, gak ada bosen dan capek-capeknya sama sekali buat selalu ngajakin kemana-mana bareng-bareng, walaupun udah ditolak berkali-kali, dengan berbagai alasan, yang aku sendiri sampe sekarang masih mikir, kenapa daridulu susah banget buat membaur sama orang lain dan temen-temen, seneng banget kemana-mana sendirian.
yah, intinya, sendiri itu nggak enak. nggak ada yang bisa diajak ngomong. ketika suara-suara di kepala udah banyak banget dan ngerasa kapasitas daya tampungnya sudah memasuki danger, mau dikemanakan suara-suara itu kalau nggak dikeluarin?
memendam itu tidak baik. sedikit, sedikit, sedikit, kalau udah banyak banget tahu kan akan bagaimana. kembali lagi, mengerikan.
"kita bikin podcast buat nemenin dhinira kalo lagi ngerjain kembang dan gak ngapa-ngapain di kamar, biar gak ngerasa sendirian."
"panggilan kita, maksudnya, para pendengar, kalau ada, dhinira. kenapa? karena? ada lah."
"untuk para dhinira di luar sana yang sedang mengerjakan kembang..."
ya meskipun aku tau itu cuma asal ngomong aja dan jadi satu alasan tambahan, hahaha. tetap terima kasih ya, kalian berdua.

dan terima kasih juga, untuk yang sudah menyadarkan dhinira, dengan mengatakan kalau sendirian itu gak enak. yep, aku mengakui itu, akhirnya.
sendirian di kamar tapi ada mba-mba tetangga kamar kost di kamarnya masing-masing;
5.23.2019.
Comments
Post a Comment