cerita

senang dan bahagia itu menurutku tidak diukur dengan sebatas sebuah postingan atau stories di instagram maupun media sosial lainnya. kenapa ya, sekarang banyak yang ngartiin kalo lagi seneng atau merasakan kebahagiaan tak terkira wajib hukumnya untuk minimal bikin snapgram. aturan darimana itu? sejak kapan? well, mungkin itu memang berlaku untuk yang sudah terbiasa dan akrab dengan aplikasi yang bikin candu ini, ingin membagikan perasaan senangnya kepada teman-teman atau warga instagram-nya. tapi, kalau untuk yang tidak terlalu akrab sama instagram atau tetap ingin low profile bagaimana? haruskah semua-semuanya tetap di stories? tentu tidak. ada tipe yang lebih memilih untuk menyimpan rasa bahagianya dengan diri sendiri, atau menceritakannya kepada yang terdekat, dan aku lebih menyukai yang seperti itu. ya, walaupun sampai sekarang kadang-kadang masih suka bikin stories di instagram dan status whatsapp, yaelah dhin hehehe, saat ini sedang berusaha untuk mengurangi sampai benar-benar tidak sama sekali, inginnya.

kebahagiaan itu, tidak harus diukur dengan membuat stories di instagram kan? hidup tidak semembosankan itu, sepertinya =)

gak tau kenapa, aku lebih seneng kalo temen-temen tau tentang aku dan ingin tau kabarku emang ada??? dengan bertanya dan bertemu langsung denganku, bukan tau kehidupanku melalui media sosial. ini juga semakin didukung setelah tahu cerita sarah sechan, publik figur yang punya talkshow di net. jadi, 2017 lalu mutusin buat berhenti total main instagram, sebelumnya, sering banget upload postingan dan stories, selfie atau foto sampai berkali-kali dengan berbagai gaya dan sudut, ngedit dan bikin caption sampai berjam-jam, bacain komen-komen toxic yang bikin semakin insecure. semuanya bikin waktu yang seharusnya untuk keluarganya jadi tersita dan terbuang percuma. emang serem ya, media sosial itu. btw tahu cerita ini habis ngeliat stories salah seorang illustrator yang juga influencer, sekitar april kemarin, hehe telat banget ya. ujung-ujungnya tetep buka ig dan liat stories orang juga kan dhin

beberapa bulan lalu, pernah bikin stories yang isinya lagi main ke satu tempat sama temen deket, dan beberapa hari setelahnya, ada temen kuliah yang nyapa "eh dhinira, akhirnya ketemu juga. hayo kemarin kemana?" dalem hati ngebatin, kok dia bisa tau ya? <-- lupa kalo sebelumnya bikin snapgram, emang anaknya agak lemot dan pelupa, hadeh. akhirnya mikir, kok aneh aja rasanya ada orang yang tau kegiatanku tapi lagi gak sama aku di waktu itu. dan darisitu semakin mikir lagi, serem juga kalo "berkabar" tentang diri sendiri di media sosial, karena gak cuma temen-temen aja yang liat, kan? kecuali kalau sudah diprotect, but still, masih agak serem jadinya.

tapi, aku juga gak menyalahkan atau menyudutkan siapa-siapa yang bikin stories dan upload postingan, karena itu juga bukan suatu kejahatan, malah sebagai bentuk ekspresi dan mengungkapkan perasaan diri serta hati. nggak ada salahnya kok. namanya juga ingin menunjukkan jati diri, ingin ngasih informasi dan tetap menjalin hubungan baik dengan siapa saja, ya gapapa. dari stories juga jadi tau kabar temen-temen yang jauh tanpa harus menanyakannya secara personal melalui chat atau free call. memang selalu ada dua sisi dalam segala sesuatunya, kan? hehehe.

sebenernya, nulis postingan di blog pun juga gak ada bedanya, sama-sama memberikan kabar, mungkin jauh lebih lengkap disini sepertinya, tapi, karena disini gak serame instagram, temen-temen yang difollow juga udah gak ada yang ngeblog lagi malahan, udah bener-bener seorang diri disini, jadi ya gapapa, wehehe. 

ohya, akhir-akhir ini suka ngebacain lagi tulisan-tulisan sebelumnya, dan seketika langsung ngerasa kalau hidup hampir setahunan kemarin ini cuma diisi sama curhatan gak jelas. kasihan blogspot, harus menampung curahan hati anak ini. kasihan juga buat beberapa temen yang ternyata juga baca tulisan disini, harus bacain hal-hal gak jelas yang terjadi dalam kehidupan ini. haft. maafin aku ya.

untuk itu, mulai sekarang, pengen ngisi blog ini dengan isi yang semoga lebih berisi /?. jadiii, buat di tulisan kali ini, mau sedikit cerita tentang buku hasil nyolong dari temen nggak lah, minjem, karena nyolong itu dosa yang baru selesai dibaca awal bulan ini hehe, udah agak lama ya dhin. ini dia bukunya.


sama kayak judulnya, isinya adalah penggambaran tentang agama dan Tuhan dari sudut pandang seniman yang diceritain dengan bener-bener baik dan, asik. keliatannya emang berat, tapi penulisnya nyeritain pemikirannya pake obrolan anak-anak SD sehari-hari, ada juga obrolan sama guru-gurunya. setelah bagian tentang obrolannya selesai --yang isi obrolannya dikaitin sama pesan yang akan dibahas dalam setiap bab tapi dikemas dengan ringan, ya dengan obrolan anak-anak SD ini-- baru nanti dibahas dengan pemikiran penulisnya, dan ini berhasil bikin orang lemot kayak aku agak paham dengan isi dan pesan yang ingin disampaikan sama sujiwo tejo. semua orang dengan agama apapun bisa baca buku ini kok, karena memang isinya tidak memihak pada satu agama tertentu.

dari yang aku tangkep, penulisnya ingin menyampaikan kalau Tuhan itu impersonal, tunggal, esa. sifat-sifatnya yang ada dalam Al-Quran hanya untuk memberikan gambaran pada ciptaan-Nya (manusia), tapi sebenarnya sifat Tuhan lebih dari itu. Tuhan sudah ada jauh sebelum manusia menyebutnya sebagai Tuhan, bahkan jauh sebelum nama "Tuhan" itu sendiri ada. Tuhan ada dimana-mana, dan bisa dalam bentuk apa saja.

penulisnya juga mengibaratkan Tuhan sebagai dalang, dan manusia sebagai wayang, bisa wayang kulit, ataupun wayang orang. di dunia ini, sama seperti wayang, manusia hanya berakting dan melakukan peran. dalang mempunyai kuasa atas wayang, tapi wayang juga menentukan bagaimana dalang memperlakukannya, misalnya, kan gak mungkin dalang menunjukkan karakter kurawa saat ia sedang melakonkan arjuna. sama seperti manusia yang bisa menentukan bagaimana Tuhan akan memberikan perlakuan kepadanya, Tuhan menyesuaikan apa yang akan diperbuatnya terhadap wayang, dalam konteks ini maksudnya adalah sifat dan perilaku manusia. kalau manusia itu berusaha keras, gak gampang putus asa, selalu berdoa dan meminta pertolongan Tuhan, ya sudah pasti Tuhan akan memberikan perlakuan yang berbeda dengan manusia yang usahanya bertolak belakang.

semua bab dalam buku ini masing-masing punya pesan yang baik dan dalem. ada beberapa kata yang aku gak ngerti artinya apa dan harus digugling dulu. atau mungkin emang sebenernya akunya aja yang rada-rada dan masih berwawasan sempit ya, hehe. ya sudah gapapa, namanya juga manusia.


ini satu dari beberapa tulisan yang aku suka dalam buku ini. gak beberapa sih, semuanya suka, habis bukunya emang bagus, hehehe. semoga gapapa ya ngeupload potongan tulisan kayak gini dari buku, agak takut sebenernya, tapi kayaknya gapapa. maafkan saya, nanti kalau gak boleh akan dihapus segera, he-he.

lagi-lagi isi tulisannya gak berfokus sama satu ide utama, di awal ngebahas instagram, di akhir malah ngereview buku. ya sudah gapapa, namanya juga........




dhinira. hehe.





di suatu tempat yang bikin bahagia karena banyak makanan enak tersedia;
5.30.2019.

Comments