kemana?
Semakin dewasa kamu, semakin banyak hal-hal baru yang kamu temui, rasakan, dan kalau beruntung, bisa kamu lalui dengan baik, dengan sudah mengetahui bagaimana proses itu menempa dirimu untuk menjadi manusia yang lebih gigih lagi.
Hidup manusia itu sudah rumit, semakin bertambahnya waktu tentu akan semakin merasakan kerasnya realitas, lalu kenapa kamu senang sekali untuk semakin memperumit diri? Memperumit keadaan, memperumit orang lain.
Berhentilah, sudah cukup, dia sudah berhasil masuk ke dalam ruang menyedihkan itu secara perlahan, tegakah kamu melihat yang sama bernapas sepertimu untuk kehilangan binar cahaya kunang-kunang pada satu waktu tertentu, terpaan angin yang berkali lipat lebih dari biasanya, dan setetes satu warna di luas samudera memudar sampai ditelan kejamnya harapan?
Tapi, sepertinya, sampai kapanpun binar cahaya kunang-kunang itu hanya akan terperangkap dalam balutan kegelapan, terpaan angin yang berkali lipat lebih dari biasanya akan segera menghilang bersama kabut kepalsuan, setetes warna di luas samudera akan seketika tertelan oleh pusaran kekecewaan. Dia tidak akan pernah bisa berada dalam damainya ilalang dan rerumputanmu. Seperti kupu-kupu itu, yang sudah dalam dan jauh mengelanai awan-awan di atasnya, meninggalkan hati dan hembusan nafas diantara kilauan langit impian.
Menyerah? Atau tetap percaya pada bisikan sel hati terdalamnya? Memutuskan untuk tetap beriringan, walaupun tidak akan pernah tahu seberapa lama hujan itu akan terus mengikutinya.
Dia sudah meninggalkan kelamnya hari-hari lalu, menetap pada sebuah masa, pada lingkaran yang selalu menyesuaikan gravitasi. Dia sudah melewati pijakan perbatasannya sendiri, terus melangkah tiada henti, tanpa pernah tahu kemana langit membawanya pergi. Tapi, bebatuan adalah teman terbaik untuknya sekarang ini, karena dia tidak cukup berarti.
Dia tahu diri.
Comments
Post a Comment