menuju

Orang-orang yang sudah berumur 25 tahun ke atas dan masih bertahan untuk hidup sampai sekarang itu hebat ya. Mungkin untuk sebagian, bahkan sejak lahir, hidup sudah begitu keras dan penuh dengan perjuangan. Tidak ada akses untuk menjadi privilege, kalau yang lagi ngetren sekarang. Tapi tulisan disini tidak akan membicarakan tentang privilege thingy.

Di umur 20 tahun, belum ngira sama sekali kalau dunia orang dewasa itu ternyata begitu rumit, tidak mudah untuk dilalui, dan lebih banyak kesedihan yang terjadi.

Rumit, karena dengan berlalunya hari, kewajiban dan tanggung jawabmu selalu saja semakin bertambah, semakin banyak yang terjadi dalam hidupmu, semakin banyak hal yang kamu pikirkan, realitas tidak cukup mampu membuatmu untuk menolak dan mengatakan tidak.

Tidak mudah untuk dilalui, karena semakin hari kamu akan mengenal orang-orang baru yang belum tentu bisa kamu pahami dengan baik karakternya. Banyak kan quote-quote yang bilang, makin nambah umur, teman-teman akan semakin berkurang. Ya emang bener, dan hidup menuntutmu untuk berurusan dengan orang-orang yang bahkan sebenarnya untuk mengetahuinya saja kamu tidak menginginkan.

Dan kesedihan, karena setiap waktu, tanpa disadari, kamu sudah merasakan sedih, sampai ngeluarin air mata, yang bahkan terkadang kamu sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Tiba-tiba ngerasa sediiih aja, dan sedihnya itu ya beneran sedih, sampai hati kayaknya juga ikutan nangis. tiba-tiba netes, ada yang hanya beberapa, ada yang deres sampai kamu nggak bisa berkata apa-apa, cuma suara sesenggukan dan narik ingus kembali masuk ke hidung yang kedengeran oh tidak tidak, bukan bermaksud jorok, memang fakta ; di toilet, di kamar kost, di rumah, di tempat kerja, di masjid, di busway-krl-mrt-gograb, di jalan pulang, di dalam sujud. Sampai kamu bertanya-tanya pada dirimu, bertanya kepada Tuhan; kenapa sebenarnya? Apa yang salah? Gagal meraih mimpi? Sulit membahagiakan orangtua dan keluarga? Menggelisahkan perjalanan di depan? Merindukan waktu dan memori lalu? Menggalaukan cinta lama? Tersesat dalam memahami keinginan? Terjebak dalam rangkaian ambigu dan diplomatis, sementara yang kamu butuhkan hanya satu pasti dan tothepoint; ya, atau tidak sama sekali; untuk setiap kesempatan yang menghampiri.

Apa memang semua orang mengalami tahap seperti ini saat sudah berusia 20 tahun ke atas? Sudah jelas pertanyaan bodoh ya. Gapapa, tetep pengen ditulis aja biar keliatan banyak tulisannya.

Menangis karena bersedih itu bukan berarti menandakan kalau kamu lemah. Sebaliknya, segala macam perkara kehidupan menempamu untuk menjadi manusia yang tidak gampang rapuh dan tergoyahkan, berkeyakinan tinggi, berkeputusan matang, berjiwa besar dan kuat, dan sudah pasti bertumbuh bijak. Menjadi dewasa itu tidak mudah. Makanya juga sering kan ada quote yang bilang kalau mending jadi anak-anak daripada orang dewasa. Iya, bener, checklist, approved, verified.

Tapi, semua itu sebenernya berasal dari pikiran sendiri kan? Kita sendiri yang mikir dan ngerasa kalau hidup tuh jadi makin rumit, gak mudah buat dilalui, dan berujung pada kesedihan tak terbatas. Kalau kata para filsuf stoa 2000 tahun lalu dan Filosofi Terasnya Henry Manampiring, semuanya tergantung dan berasal dari pikiran serta reaksi, padahal pikiran dan reaksi kita itu ya kita sendiri yang mengendalikan, dan hal-hal yang kita pikirin itu kebanyakan eksternal, berasal dari luar, kita nggak bisa mengendalikan itu. Semua yang terjadi dan berasal dari luar, nggak akan pernah bisa dikendalikan, kita hanya bisa mengendalikan pikiran dan reaksi yang kita berikan. Mau sedih, reaksi sedih yang diberikan, mau seneng, ya reaksi yang juga sama yang akan diberikan. Katanya, kunci untuk hidup bahagia adalah tidak adanya pemikiran negatif, untuk urusan ketawa gembira dan seneng-seneng itu belakangan, yang penting adalah kurangi dulu pemikiran negatif dalam dirimu, sampai pada tahap kamu benar-benar bisa menghilangkannya.

Ya mungkin bener, masih banyak banget pemikiran negatif yang selalu mampir, udah bukan sepedaan santai sambil nyanyi dan senyum-senyum sendirian, tapi bener-bener sampai estafet bahkan maraton di dalam diri. Kembali lagi, overthinking. Kurang-kurangin ya dhin, kalau perlu disembuhin, saat ini juga. Untuk seluruh sel yang ada di dalam diri dhinira, mari kita doakan dan amini bersama ya, teman-teman sel yang baik hatinya. Aamiin.

Sudah dulu ya blogspot, akan disambung lagi dengan cerita lainnya yang juga tidak menarik. Bytheway kok akhirannya gak enak gini ya, gak ada penjelasan dan epilog. Yowes ora opo-opo. Paipai~

Comments