segalanya

Berpisah sementara dengan kedua orangtua selalu terasa menyedihkan ya. Bagaimana rasanya? Tidak akan pernah bisa untuk dijelaskan dan dideskripsikan. Benar-benar tidak ingin, tapi realitas yang kamu pilih mengharuskannya, karena memang itu sudah menjadi pilihanmu sejak awal, bukan?

"Dek, mau apa?"

"Mumpung bisa ketemu sama deis, ibuk gak mau tidur, ada temen cerita."

"Deis, nanti beli angsle ya kalo ketemu yang jual di jalan. Pelan-pelan ya bapak nyetirnya."

"Mau duduk di belakang sebentar sama deis."

"Deis mau bawa makanan apa? Ini pokoknya harus ada yang dibawa ya buat dimakan nanti."

"Kuenya banyak banget, dibawa deis semua aja ya."

"Deiiis, bapak bawa ketan sama petulooo~~" mengatakan dengan nada yang benar-benar tulus, riang banget kayak lagi ngomong sama anaknya yang masih berumur lima tahun.

"Deis, mau apa? Beli nasi goreng mie goreng pak tasrib yuk."

Selalu, setiap berhenti di jalan dan lagi nunggu di dalem mobil, tiba-tiba ibuk ngetuk jendela dan bawain jajanan kesukaan, selalu, masih terus begitu, semalam pun juga.

Selalu, saat di rumah, ibuk dan bapak bikinin atau beliin segala macam makanan kesukaan putri-putrinya, semuanya, benar-benar semua yang disuka, dan menyerahkannya sambil tersenyum ramah, selalu.

Selalu, saat mengantarkan sampai stasiun, ibuk dan bapak nungguin sampai keretanya berangkat, dan saat udah bener-bener jalan, ibuk dan bapak senyum-senyum sambil semangat dadah dadah dengan kedua tangan dari balik jendela di batas pengantaran penumpang dan bilang "daaaah deiiiiis", selalu.

Tengah malem, sering ada chat dari ibuk.
"Dik Is kok belum bubu?"
Tau dari last seen whatsapp.

Saat itu, ibuk pernah cerita, entah tentang apa pun udah lupa. Kurang lebih kayak gini:
"Buk, ini kok masih disini nggak dibuang aja?" kataku.
"Iya, masih disimpen sama Bapak. Bapak bilang: Ini punya deis, nggak boleh dibuang, disimpen aja."

"Deis uangnya masih ada? Berapa? Pasti tinggal seribu kaaaaan? Ya kaaaaan."
Setiap hari selalu ada pertanyaan ini, selalu.

"Deis kok cuma sebentar. Kayak mimpi ya rasanya. Sampai ketemu lagi yaaa deis."

Dan masih banyak lagi ketulusan lainnya. Masih banyak lagi "selalu" lainnya. Masih banyak lagi kasih sayang lainnya. Nggak keitung, dan nggak akan pernah bisa. Udah nggak sanggup juga mau ngetik yang lainnya, besok masuk kelas keliatan bengkak kan ya akan aneh, bukan dhinira banget. iya, memang lemah orangnya.

Hah~ life.

Semoga Tuhan berbaik hati selalu memberikan kesehatan dan waktu yang sangat panjang untuk dua penyemangat hidupku. Semoga Tuhan juga berkenan memberikan kesehatan dan waktu yang panjang untuk tiga putri dari dua penyemangat hidupku ini, agar kami bisa memiliki momen kebersamaan lebih banyak lagi.

Tentu juga doa yang sama untuk seluruh orangtua dan putra-putrinya yang saat ini sedang dijauhkan oleh jarak, tapi selalu didekatkan dengan ikatan cinta, ketulusan kasih sayang, dan doa-doa baik.

Aamiin.

Menulis ini bukan bermaksud untuk membuat iri. Mau bikin iri siapa juga ya disini, sunyi senyap seperti kamar kost.

Orangtua yang baik selalu ingin membuat anak-anaknya untuk hidup tercukupi dan jauh lebih bahagia dibandingkan diri mereka sendiri. Kebaikanmu tidak akan pernah cukup buat menggantikan segalanya yang sudah orangtua lakukan untukmu.


dalam perjalanan dari kota empat suku kata menuju kembali ke kota perantauan,
berlawanan arah dengan dua penyemangat hidup yang kembali ke kota kami menciptakan segala kenangan bersama,
karena sudah pasti akan bertemu lagi,
dan ada invention bernama video call,
jadi tidak apa-apa =)

di dalam rangkaian balok yang sedang berjalan bersama orang-orang tak dikenal dengan ceritanya masing-masing,
ditemani kue sempurna buatan nenek,
dan kopi dengan suasana hati pelangi,
oleh satu suara menenangkan
yang bukan berasal dari penyanyi aslinya.
10.6.2019.


Selamat ulang tahun untuk ibuk💚

Comments